14.3 C
Manchester
16 September 2021
Image default
Opinion

3 Periode Cenderung Menjerumuskan Jokowi

Oleh : Asep Erwin

Kita percaya Jokowi adalah presiden terbaik yang Indonesia miliki saat ini.

Tahun 2024 adalah tahun dimana akan berlangsungnya kembali pilpres di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Menuju 2024 itu waktu yang bisa dikatakan masih lama atau pun juga tidak lama lagi. Dijagat medsos pun sekilas sudah bertebaran nama-nama yang muncul dan di jagokan untuk di pilpres 2024, diantaranya nama-nama yang sudah berseliweran ada Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Prabowo, Puan Maharani, Andika Perkasa dan kembali di gadang-gadang nama presiden Jokowi untuk periode ke-3.

Ketika dijagat medsos diramaikan dukungan kepada Jokowi untuk kembali memimpin yang ke-3 kalinya, penulis pun ketika itu langsung menulis dengan memberikan pemahaman bahwa sebaiknya Jokowi tidak harus kembali menjadi presiden untuk yang ke-3 kalinya, bahkan penulis waktu itu pun meyakini karena Jokowi sangat paham akan undang-undang periode jabatan presiden yang merupakan amanah reformasi sehingga dipastikan Jokowi akan menolaknya untuk di calonkan kembali menjadi presiden untuk yang ke-3 kalinya.

Dugaan penulis tidak salah, ketika itu Jokowi pun menanggapi isu tersebut dengan menolaknya dan bahkan Jokowi mengatakan bahwa yang mau mencalonkan dirinya untuk yang ke-3 kali itu hanya mencari muka saja, dan bahkan mau menjerumuskan dirinya.

Ketika Jokowi berstatement menolaknya, ramai-ramai pendukung Jokowi pun menuduh kalau yang menghembuskan isu Jokowi 3 periode itu adalah kadrun, perang kecil di medosos pun kembali bergulir antar cebong dan kadrun.

Penulis melihat bahwa yang selama ini membuat isu Jokowi 3 periode itu datang memang dari pendukung Jokowi dan publik pun mengamini. Buat penulis hal itu sesuatu yang wajar karena memang alasannya kinerja Jokowi yang punya banyak prestasi.

Namun perlu penulis sampaikan, bahwa Jokowi punya banyak prestasi, dan Jokowi merupakan presiden terbaik di Indonesia, itu BETUL ! Hanya kita perlu tahu dan ingat, bahwa terjadinya reformasi yang menyebabkan jatuhnya presiden Soeharto adalah salah satunya karena Soeharto terlalu lama menjabat sebagai presiden. Lahirnya reformasi itu melahirkan amandemen UU masa jabatan presiden memjadi 2 periode. 2 periode itu sudah berdasarkan pemikiran matang bahwa jika presiden diberikan jabatan terlalu lama maka akan cenderung korup dan otoriter. Itulah yang terjadi dengan Soeharto, karena terlalu lama jadi presiden akhirnya dia korup dan otoriter.

2 periode itu menurut penulis sesuatu yang tepat untuk masa jabatan presiden. Dengan 2 periode itu kita bisa cermati dan menilai siapa-siapa saja presiden yang betul-betul bekerja untuk rakyat dan bangsa ini. Sebagai contoh, kita bisa tahu bagaimana kinerja SBY semasa dia menjabat 2 periode jadi presiden, dan bagaimana kinerja Jokowi sekarang, pasti kita bisa lebih mudah menilai kinerjanya mana yang betul-betul bekerja dengan yang tidak bekerja.

Artinya dengan 2 periode masa jabatan presiden rakyat jadi lebih mudah menilai kinerjanya.

Usulan 3 periode untuk Jokowi karena kinerjanya yang bagus, itu tidaklah salah, hanya perlu diketahui bahwa Jokowi juga manusia biasa, kita tidak ingin yang tadi disebutkan penulis di atas bahwa terlalu lama menjabat sebagai presiden akan cenderung korup dan otoriter. Kita tidak mau itu nanti terjadi dengan Jokowi, pengusul banyak meyakini bahwa Jokowi tidak akan korup dan otoriter, tapi penulis perlu ingatkan, sekali lagi Jokowi itu manusia biasa, dan sebagai contoh kecil, kita tahu semuanya ketika Jokowi sebelum di lantik di periode kedua, Jokowi mengatakan bahwa dirinya sudah tidak punya beban apa-apa akan tetapi faktanya di periode kedua Jokowi dalam memilih para menterinya lebih banyak mengakomodir ketum partai-partai daripada mengaokomodir keinginan publik, berbeda ketika periode pertama justru Jokowi tidak mengedepankan kepentingan partai melainkan kepentingan publik dalam menyusun kabinetnya. Disini kita bisa lihat, bahwa sebaik apa pun presiden Jokowi tapi dia manusia biasa, dari perubahan dalam memilih menteri-menterinya saja di periode kedua justru bukan harapan publik.

Untuk itu, kita tidak mau Jokowi justru dengan 3 periode itu akan terjerumus lebih jauh kejurang kesalahan, sehingga kita tidak pernah memiliki presiden yang endingnya baik yang memiliki legacy baik. Jokowi tidak akan melakukan kesalahan, penulis tekankan lagi bahwa Jokowi juga manusia biasa, akan lebih baik kita menjaganya sampai akhir periode kedua dengan namanya yang tetap harum sekali pun sudah tidak jadi presiden.

Tugas kita sekarang adalah pastikan memilih dan mendukung dia yang akan menjadi penerus program dan kinerjanya seperti Jokowi. Penulis yakin dengan lahirnya Jokowi akan ada Jokowi-Jokowi lainnya yang membawa bangsa dan rakyat ini lebih maju dan sejahtera.

Jakarta, 15 Mei 2021

Leave a Comment