6.5 C
Manchester
4 March 2021
Image default
Business

Produk Tradisional Asal Papua yang Go International

Dikatakan Frans, dalam kondisi bencana non alam (pandemi Covid-19) sangat berharap pemerintah dapat membantu menumbuhkan sektor-sektor industri yang masih bisa bertahan sehingga pertumbuham ekonomi itu meskipun lambat tetapi tetap hidup.

SABISNIS.COM, Papua – Frans J.P. Kareth, berprofesi sebagai peneliti saat menjabat Direktur LAPPASDAM (Lembaga Penelitian & Pengembangan Sumberdaya Alam & Manusia), yang merupakan lembaga swasta yang bergerak di bidang pendidikan dan riset di bawah bendera Yayasan Creatindo. Selain Lapasdam Yayasan pun memiliki STMIK Kreatindo (Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika Kreatindo Manokwari).

Frans berhasil melakukan penelitian Smilax/Daun Bungkus untuk industri di perguruan tinggi (PT), hal ini sejalan dengan Tujuan Kemenristek & Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenriatek BRIN).
“Yaitu perguruan tinggi (PT) ditantang untuk melakukan produksi masal hasil riset dosen,”ujar Frans.

Kini produk Smilax memiliki Badan Hukum sendiri dan terpisah. Smilax terdaftar dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) 0287010120659 tanggal 5 November 2020 oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal sebagai Izin Usaha Mikro Kecil/IUMK, dan juga telah mendapat akses kepabeanan dalam bidang ekspor, dan Frans bertindak sebagai Direktur Utama IUMK dengan merek produk Smilax Rutondifolia.

Smilax Rutondifolia merupakan tumbuhan menjalar yang termasuk dalam jenis Smilax L dari Spesies Smilax sp. Dalam bahasa lokal di sebut Daun Bungkus/Daun Tiga Daun/Daun Tiga Jari.
Nama lokalnya sesuai dengan bentuk fisik Daun. Fungsinya, secara tradisional tumbuhan ini sudah digunakan turun temurun oleh masyarakat adat Papua sebagai obat tradisional untuk pernafasan seperti menyelam atau menyanyi (WOR/nyayian adat).

Sekitar tahun 80-an Daun Bungkus mulai populer di gunakan untuk membesarkan ukuran diameter penis pria dewasa, namun sayangnya penggunaan secara tradisional menyebabkan iritasi hingga luka parah.

“Karena alasan itu, saya melakukan riset dan mengembangkan manfaat Daun Bungkus agar penggunanya terhindar dari resiko luka. Saya mengubah Daun Bungkus menjadi cream agar lebih mudah di gunakan, tidak menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada area penis, produk dapat di simpan lebih dari 1 tahun tanpa mengurangi khasiatnya,”ucap Frans.

IUMK Smilax Rutondifolia sendiri sesuai ijin baru berdiri tanggal 5 November 2020, namun produksinya sendiri sudah dilakukan/intensitas produksi mulai tinggi sejak bulan April 2020.

Lebih lanjut dikatakan Frans, motivasi mendirikan IUMK Smilax Rutondifolia terutama untuk mewujudkan tantangan dari Kemenristek BRIN tentang industrialisasi hasil penelitian perguruan tinggi (PT). Kedua, untuk membantu para pria yang bermasalah dalam hubungan intim degan pasangannya atau meningkatkan kepercayaan diri para pria dalam urusan ranjang. Ketiga, membantu membangun iklim riset dan inovasi Dosen Perguruan Tinggi di Daerah. Keempat, melestarikan tumbuhan Daun Bungkus dari kepunahan. Dan Kelima, membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan yang baru.

Visi misi usaha Frans, kedepan produk Smilax Rutondifolia dapat di terima luas oleh masyarakat nasional maupun internasional, sehingga bisa di ekspor keluar negeri.

Sementara itu, pada tahun 2020 penjualan produk Smilax Rutondifolia sudah menjangkau pasar di Indonesia, Asia dan Eropa. Untuk pasar di dalam negeri Smilax Rutondifolia terjual hingga di 31 provinsi dari total 34 provinsi di Indonesia. Untuk di luar negeri sudah dijual di Malaysia, Timor Leste, Korea Selatan, Arab Saudi, Belanda, beberapa kota lainnya di Eropa. “Respon pasar untuk produk Smilax Rutondifolia sangat bagus, meskipun begitu kami tetap berusaha untuk memperbaiki mutu dan kualitas produk serta pelayanan umum,”ujar Frans.

Selain itu, untuk di Indonesia sendiri sudah memiliki 6 (enam) reseller di enam kota yang berbeda, akan tetapi belum 100% sesuai dengan harapan banyak orang atau masyarakat luas. “Karena masih banyak yang perlu di benahi, namun dalam kondisi bencana non alam (pandemi Covid-19) saat ini kita tidak bisa bergerak leluasa. Tapi saya sampaikan untuk masyarakat yang mau mencoba dan memasarkan produk ini, jika mau jadi member persyaratannya dengan pembelian minimal 10 pcs (gratis 1 pcs + free ongkir). Saya juga perlu sampaikan saat ini ke-6 (enam) reseller/member tidak semuanya aktif,”terangya.

Pengembangan usaha
Frans kini baru saja melakukan kerjasama dengan PT Pos Indonesia. “Tujuan kerjasama degan PT Pos Indonesia kantor cabang Manokwari, untuk mempermudah akses pengiriman barang baik di tingkat lokal, nasional dan keluar negeri. Seperti contoh untuk wilayah Papua pengiriman keluar negeri sangat sulit karena barang tidak bisa langsung di kirim ke negara tujuan, jadi kami harus punya perwakilan di pulau Jawa atau paling dekat di Makassar, dan perwakilan ini yang bisa kirim keluar negeri,”ucapnya.

Frans menambahkan, selama ini untuk pengiriman keluar negeri barang lewat perwakilan di Bekasi, Jawa Barat. Di harapkan dengan dibukanya kerjasama dengan PT Pos Indonesia setiap pengiriman barang bisa langsung di kirim keluar negeri. Selain itu, ada juga kemudahan lainnya seperti pembanyaran ongkos kirim bisa di lakukan dalam satu bulan, dan barang kiriman oleh PT Pos Indonesia di jemput langsung dari pabrik/kantor pemasaran. Karena produk ini sudah sampai di Asia, Eropa jadi bisa dikatakan sudah go international.

“Harapan saya bahwa dalam kondisi bencana non alam seperti saat ini, saya sangat berharap pemerintah dapat membantu menumbuhkan sektor-sektor industri yang masih bisa bertahan sehingga pertumbuham ekonomi itu meskipun lambat tetapi tetap hidup, peredaran uang bisa berjalan dalam gerak lambat, semoga bencana non alam ini bisa berakhir dan ekonomi kembali stabil seperti sebelumnya. (Asep Erwin)

Related posts

This is how you dress for a job interview, and land an offer

admin

The 9 worst mistakes you can ever make at work

admin

3 Ways to make your business presentation more relatable

admin

Leave a Comment