5.9 C
Manchester
4 December 2021
Image default
Business

Melalui Industri MLM Berpeluang Mendapatkan Customer Loyal yang Lebih Besar

Yufita yang gemar berolahraga menembak ini secara filosofis mengungkapkan masih memiliki banyak peluru untuk ditembakkan ke masing-masing targetnya. SJI yang bermula di bisnis kecantikan dan healthy care ini akan sedikit memutar arah beberapa derajat kemudian menargetkan sektor farming atau agribisnis.

SABISNIS.COM – Untuk mencapai targetnya seorang pelaku usaha wajib fokus, presisi, dan memiliki intuisi dalam membuat sebuah keputusan. Karakter itulah yang melekat pada sosok srikandi asal Surakarta, Yufita Ernawati, CEO PT Srikandhi Jayatama Indonesia (SJI) meski baru berusia seumur jagung, perusahaan network marketing ini telah memiliki banyak pencapaian berkat kejelian mata Sang CEO.

Seringkali sebuah bisnis ambruk karena si pelaku tidak tahu apa yang ingin dia capai, tidak memiliki target dan rencana pasti sehingga sebanyak apapun peluru yang ditembakkan kerap mentah karena tidak menyasar targetnya. Hal itu tidak berlaku bagi Yufita Ernawati, atau kerap disapa Yufita, dengan bendera PT Srikandhi Jayatama Indonesia (SJI), didirikan 25 Juni 2019, perusahaan network marketing yang berkantor pusat di Kota Solo ini telah berkembang sedemikian pesat dengan fokus utama melakukan penjualan langsung produk-produk premium dan kecantikan.

Strategi bisnis yang terukur sudah jadi karakternya, merupakan hasil dari tempaan dan dimatangkan dari proses serta pengalaman. Di masa kuliah, Yufita Ernawati pernah menjalankan bisnis konvensional yang bergerak di bidang telekomunikasi, bimbingan belajar hingga distro dan clothing. Namun, ketiga bisnis itu dinyatakan bangkrut dengan mulus.

Tidak menyerah, Yufita lantas mencoba metode bisnis lain yang belum pernah sama sekali dijajalnya, yakni direct selling. Sejak 2010 dirinya mengenal bisnis MLM dengan menjadi member. Bakat bisnis alamiahnya mengantarkannya sedikit demi sedikit pada kesuksesan. “Dalam kurun waktu tujuh tahun saya berhasil mendapatkan total profit Rp3 milliar, dengan usaha yang hanya bermodalkan Rp1,5 juta saja,” kenang Yufita.

Keyakinannya akan bisnis direct selling ini diperkuat oleh satu penelitian yang mengatakan dari 100 pengusaha baru di bisnis konvensional, yang bisa bertahan di tahun pertama hanya sekitar 20%. Dan dari 20% ini, pengusaha yang bisa bertahan hingga tahun kelima hanya berjumlah 4 orang. Jumlah yang terhitung kecil. Apa sebab? Di bisnis konvensional tidak ada mentor.

“Misalnya ketika kita mau jualan bakso, lalu kita bertanya ke pedagang bakso yang sudah laris.
Mereka akan kasih tahu ke kita resepnya? Tentu tidak, mau tidak mau akan jadi pesaingnya. Nah, kelemahan bisnis konvensional adalah tidak ada mentor. Pelaku usaha yang baru belum siap dengan iklim kompetisi itu,” ujar Yufita.

Pemikiran itu pula yang menjadi salah satu faktor penting SJI sebagai satu entitas bisnis yang terus tumbuh baik dari segi omzet maupun penambahan member meski terbilang belia.
Perusahaan network marketing yang berkantor pusat di Solo itu sudah memiliki banyak pencapaian berkat peluru yang ditembakkan Sang CEO seringkali menemukan sasarannya.
Ia memiliki target dan tahu apa yang ingin dia tuju.

Ketertarikan Yufita akan industri MLM sangatlah besar. Ia mengaku optimis dengan industri ini, menurutnya perusahaan yang berkecimpung di dunia ini akan cepat tumbuh dengan catatan jika perusahaan tersebut punya produk yang bagus, support system mentoring yang baik, juga bagi hasil fair, yang sama-sama menguntungkan antara perusahaan dengan member-nya.

“MLM bisa dijalankan oleh orang yang paling sederhana sekalipun,” kata Yufita. Lebih dari itu, bagi dirinya MLM adalah pilihan yang sangat tepat bagi orang-orang yang belum punya pengalaman berbisnis dan minim modal seperti dirinya di masa awal memulai kayuh pertama sebagai seorang member.

Kelebihan komparatif lain yang dimiliki Industri MLM menurut Yufita adalah peluang mendapatkan customer loyal yang lebih besar, ini sulit didapatkan jika menjalankan bisnis di perusahaan konvensional.

Ia mengambil contoh produk dari perusahaan yang dipimpinnya, SJI memiliki setidaknya 13 item produk dengan merek Le Diamonds, dalam kurun dua tahun saja, dan menghitung masa pandemi telah memiliki produk unggulan yang banyak dipesan secara repeat order. Produk itu antara lain, ‘Le Diamonds Herbal Soap Propolis’, ‘Le Diamonds Exclusive Brightening All Day Cream’, ‘Le Diamonds Cholesterol Health’, dan ‘Le Diamonds Exclusive Brightening Serum’.
Ini belum menghitung 20 produk kecantikan dan kesehatan lain yang sudah terstandardisasi oleh BPOM. Sebut saja; Le Diamonds Herbal Soap Chlorophyll, Le Diamonds Exclusive Brightening Facemist, Le Diamonds Exclusive Peel of Mask, Le Diamonds Beauty Drink with Collagen & Glutathione, Le Diamonds Exclusive Perfume, Eye Health dan lain-lain.

Selain produk kecantikan tadi, Yufita juga menyebutkan SJI mempunyai selling point produk premium yang membuat SJI unggul dibanding kompetitornya, SJI menjual produk premium dengan bahan- bahan yang berkualitas, seperti Caviar, Jania Rubens dari perairan Eropa, Ectract Meteor, Ginseng Korea , Argan Maroko, Ectract batu Giok, Spirulina dan berbagai macam bahan premium lainnya.

Lantas, apa strategi khusus yang dipakai SJI untuk mengembangkan usahanya? Yufita mengutarakan yang paling utama adalah SJI memiliki pelatihan ‘S3 academy’ istilah pelatihan SJI yang berisi training yang berkelanjutan untuk memudahkan member dalam mempelajari product knowledge dan marketing plan bisnis SJI.
Sehingga member mudah dalam melakukan rekrutmen member baru melalui offline maupun online.

Di sisi lain pemanfaatan teknologi juga dilakukan dengan mengembangkan aplikasi ‘SJI Mobile’ yang berfungsi guna meng-update semua informasi ke semua member secara realtime. Selain itu, SJI pun memiliki tim branding dengan memanfaatkan gaung sosial media seperti Instagram dan Tik-tok.

Namun, dari itu semua yang tak kalah penting adalah bagaimana SJI memperlakukan konsumennya. “Kami satu- satunya perusahaan MLM yang memiliki care center product dimana jika terjadi komplain produk, ada ketidakcocokan di wajah ketika digunakan, ada team lab khusus untuk menangani keluhan tersebut, mengevaluasi gejala dan memberikan solusi, ataupun memberikan subtitusi penggantian produk jika diperlukan.”

Disadari Yufita, bisnis direct selling merupakan aktivitas marketing yang dapat berjalan dengan baik apabila adanya approach yang digunakan di MLM ini selalu community based, selalu dari teman ke teman. Di masa pandemi, industri ini justru tumbuh sebab aktivitasnya yang cenderung sangat efektif untuk community based atau friend based, jualan berbasis komunitas atau lingkar pertemanan.

“Ini konsumennya biasanya dimulai dari teman dan komunitas.
Dengan ditopang media sosial itu akan semakin memudahkan. Dalam situasi pandemi, dengan adanya sosial media penjualan masih bisa dilakukan secara online. Cocok dengan era new normal yang mengharuskan pertemuan secara fisik diminimalkan, dan dapat dilakukan dari rumah,” ungkapnya.

Untuk memperkuat brand awarenes, SJI yang terdaftar sebagai anggota di Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia (AP2LI) terlibat di berbagai event seperti Internasional Beauty Expo “Malaysia International Beauty Show” di tahun 2019.

Selain itu SJI juga mengikuti event ‘Direct Selling Expo’ dengan skala nasional yang diselenggarakan oleh AP2LI, ajang ini tercatat dalam rekor MURI sebagai asosiasi pertama yang menyelenggarakan event ‘direct selling expo 4.0 virtual perdana di Indonesia’.

Berkat itu semua, dalam tempo singkat SJI sudah menggaet mitra sebanyak 20.000 member, dengan stokis berjumlah 50 titik di seluruh Indonesia.
Seperti halnya perusahaan network marketing lain, SJI juga memberi reward tour ke luar negeri dan reward pencapaian berupa motor, mobil keluarga, luxury car hingga rumah.

Yufita yang gemar berolahraga menembak ini secara filosofis mengungkapkan masih memiliki banyak peluru untuk ditembakkan ke masing-masing targetnya. SJI yang bermula di bisnis kecantikan dan healthy care ini akan sedikit memutar arah beberapa derajat kemudian menargetkan sektor farming atau agribisnis.

“Mengingat sektor pangan dan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia. Melalui farming kami juga ingin memaksimalkan penggunaan pupuk organik, agar tanah Indonesia lebih sehat dan tidak semakin tercemar dengan penggunaan pupuk kimia,” janji salah satu anggota Perbakin ini. (RN)

Related posts

3 Ways to make your business presentation more relatable

admin

6 Stunning new co-working spaces around the globe

admin

The 9 worst mistakes you can ever make at work

admin

Leave a Comment